Keep Spirit.....!!

Entri Populer

Senin, 26 Oktober 2015

MAKALAH TURUNNYA AL QUR'AN

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI                                                                                                                            1
BAB I PENDAHULUAN                                                                                                         2
A.     Latar Belakang                                                                                                       2
B.     Rumusan Masalah                                                                                                 2
BAB II PEMBAHASAN                                                                                                          3
A.     Arti Nuzulul Qur’an                                                                                                           3
B.     Proses Turun Al-Qur’an                                                                                         4
C.     Hikmah Turun Secara Bertahap                                                                             6
D.     Makna Wahyu dan Prosesnya                                                                                6
BAB III PENUTUP                                                                                                                  7
A.     Kesimpulan                                                                                                                       7
DAFTAR PUSAKA                                                                                                                 8















BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Al-Qur’an adalah kitab suci kaum muslimin dan menjadi sumber ajaran Islam yang pertama dan utama. Al-Qur’an harus diimani dan diaplikasikan dalam kehidupan  mereka agar mereka memperoleh kebaikan di dunia dan di akhirat. Sehingga tidaklah berlebihan jika selama ini kaum muslimin tidak hanya mempelajari isi dan pesan-pesannya.
Tetapi juga telah berupaya semaksimal mungkin untuk menjaga otentitasnya. Upaya itu telah mereka laksanakan sejak Nabi Muhammad SAW masih berada di Mekkah dan belum berhijah ke Madinah hingga saat ini. Upaya tersebut telah mereka laksnakan sejak Al-Qur’an diturunkan hingga saat ini. Mempelajari Al-Qur’an adalah kewajiban. Terdapat beberapa prinsip dasar untuk memahaminya, khusus dari segi hubungan Al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian Nuzulul Qur’an?
2.      Bagaimana proses turunnya Al-Qur’an?
3.      Apa hikmah turunnya Al-Qur’an secara bertahap?
4.      Apa makna wahyu Al-Qur’an dan proses turunnyya Al-Qur’an?































BAB II

PEMBAHASAN


A.     Pengertian Nuzulul Qur’an

Secara etimologis Nuzulul Qur’an terdapat dua kata yaitu kata Nuzul dan Al-Qur’an. Pada dasarnya ”Nuzul” itu mempunyai arti turunnya suatu benda dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Nuzul juga secara etimologi dapat berarti singgah atau tiba ditempat tertentu. Makna nuzul dalam pengertian yang disebut terakhir ini dalam kebiasaan orang arab menurut Abdul Azhim Az-Zarqoni sebagai makna hakiki. Sehingga, kata singgah, mampir, atau tiba umpamanya sering diungkapkan oleh orang arab dalam formulasi seperti seorang penguasa singgah atau tiba disuatu tempat. 

Kata Nuzul memiliki beberapa pengertian antara lain: 

a) Menurut Ibn Faris, kata Nuzul berarti hubuth syay wa wuqu’uh, “turun dan jatuhnya sesuatu.”

b) Sedang menurut al-Raghib al-Isfahaniy, kata Nuzul berarti, “meluncur atau turun dari atas ke bawah.”

c) Menurut al-Zarqoni, kata Nuzul di ungkapkan dalam penuturanya yang lain untuk pengertian perpindahannya sesuatu dari atas ke bawah. 

d) Imam Fairuz Zabadi dalam kamusnya Al-Muhith Al-Hulul Fil Makan. Kata Nuzul itu mampunyai arti : “Bertempat di suatu tempat”. Contohnya antara lain firman Allah SWT.

وَقُل رَّبِّ أَنزِلۡنِى مُنزَلاً۬ مُّبَارَكً۬ا وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلۡمُنزِلِينَ 

Artinya: Berdo’alah Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang di berkahi dan Engkau adalah sebaik-baik yang memberi tempat (Q.S. Al- Mukminum : 29) 

e) Imam Az-Zamakhsyari dalam tafsirnya Al- Kasysyaf. Kata Nuzul itu berati Al- Ijtima (kumpul). 

Di dalam hubungannya dengan pembahasan Nuzulul Qur’an ini, kata MF. Zenrif di dalam bukunya yang berjudul sintesis paradigma studi al-Qur’an, ada juga pendapat yang memberikan alternatif dari problem teologis dengan memberikan pengertian majaziy dari kata nuzul. Dalam hal ini nuzul diartikan penampakan al-Qur’an ke pentas bumi pada waktu dan tempat tertentu. Memang menurut pandangan ini al-Qur’an bersifat Qodim, dalam pengertian sudah ada sebelum adanya tempat dan waktu, akan tetapi keberadaanya ketika itu belum diketahui atau hadir di pentas bumi. Ketika al-Qur’an pertama kali diterima Nabi saw, ketika itu pula al-Qur’an menampakan diri. Oleh karenanya, inna anzalnahu fi lailat al-qodr mempunyai pengertian:“sesungguhnya kami memulai memperkenalkan kehadiran al-Qur’an pada malam al-Qodr”  

            Secara harfiah berarti turunnya Al-Qur’an (Nuzulul Qur’an) adalah istilah yang merujuk kepada peristiwa yang penting penurunan wahyu Allah pertama kepada Nabi Muhammad SAW. Turunnya Al-Qur’an dari Allah SWT kepada Rasulullah SAW diperingati setiap tanggal 17 Ramadhan.

            Secara bahasa, kata Al-Qur’an  adalah bentuk masdar dari kata iqro yang berarti bacaan. “Qur’an” menurut pendapat yang paling kuat seperti yang dikemukakan Dr. Subhi Al Salih berarti “bacaan”, asal kata qara’a. Kata Al-Qur’an itu berbentuk masdar dengan arti isim maf’ul yaitu maqru’ (dibaca). Al-Qur’an bukan saja harus dibaca oleh manusia, tetapi juga karena dalam kenyataannya selalu dibaca oleh yang mencintainya. Baik pada shalat maupun di luar shalat.

            Secara istilah Al-Qur’an adalah kalam Allah SWT yang merupakan mukjizat yang diturunkan (diwahyukan) kepada Nabi muhammad SAW dan dituis di mushaf dan diriwayatkan dengan mutawattir serta membacanya adalah ibadah.

            Berdasarkan definisi ini, kalam Allah yang diturunkan kepada nabi-nabi selain Nabi Muhammad SAW tidak dinamakan Al-Qur’an seperti Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa a.s.atau Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa a.s. Demikian pula kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, seperti Hadis Qudsi tidak pula dinamakan Al-Qur’an.


B.     Proses turunnya Al-Qur’an

Sebagaimana segala sesuatu memiliki empat dimensi wujud: wujud lisan, wujud tulisan, wujud mental dan wujud luaran, wahyu juga demikian adanya memiliki empat dimensi wujud:
A.    Wujud tulisan al-Qur’an yang tampak dan lahir.
B.     Wujud lisan al-Qur’an adalah bacaan pembaca yang dibaca semenjak para maksum dan malaikat          hingga masyarakat awam.
C.     Wujud mental dan ilmiah al-Qur’an yang terbagi lagi menjadi beberapa bagian: wujud di lauh mahfuz, wujud di alam perintah (amr) yang kemudian turun sesuai dengan perintah Ilahi ke dalam hati Rasulullah Saw sebagaimana dalam firman Allah Swt, “"Ar-Ruh al-Amin (Jibril) telah menurunkannya ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan." (Qs. Al-Syuara [26]:169) Atau makna-makna transendental dan metafisik yang diraup tatkala qari membaca al-Qur’an. Seperti firman Tuhan, “Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al-Qur’an ini) suatu kitab pun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tanganmu; andai kata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang-orang yang ingin mengingkari(mu)." (Qs. Al-Ankabut [29]:48)
D.    Wujud luaran secara global dimana hakikat dan realitas al-Qur’an turun dari sumber keagungan Tuhan Esa, sebagaimana firmannya, “Alif Lâm Râ, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu." (Qs. Al-Hud [11]:1)
E.     Wujud luaran al-Qur’an ini adalah yang berbentuk indah dan menjadi kerabat dekat orang-orang mukmin di kubur dan di akhirat akan menjelma dan bertutur-kata serta memberikan syafaat.
F.      Banu Isfahani dalam menyanggah anggapan bahwa hal ini mustahil menuturkan, “Jangan kalian mengira bahwa riwayat yang mengisahkan syafaat yang diberikan al-Qur’an dan sebagainya merupakan sebuah pepatah. Riwayat tersebut harus ditakwil dan dimaknai pada batinnya. Karena al-Qur’an pada setiap tingkatan eksistensi sedemikian ia menjelma dengan jelas sehingga alam-alam wujud berderet secara vertikal. Dan setiap tingkatan rendah merupakan simbol dan penampakan dari tingkatan tingginya. Dan pancarannya menjelma dan memanifestasi di dunia aktual tempat kita berpijak yang merupakan tingkatan terendah dari tingkatan-tingkatan alam eksisten. Dunia tempat kita berpijak merupakan dunia majaz (figuratif, non-hakiki) dan dunia lahir. Dan seluruh eksisten di dunia ini tidak lain merupakan simbol dan penampakan alam atas.
Di atas alam ini terdapat sebuah alam yang berada dalam lintasan menanjak kita manusia. Alam tersebut adalah alam barzakh yang merupakan perantara dan media antara alam dunia dan alam kiamat. Alam barzakh merupakan alam form (shurat) dan alam makna. Dan di atasnya terkait dengan manusia merupakan alam kiamat yang merupakan alam keseluruhan, alam hakikat, alam kehidupan dan di situlah batasan dan akhir perjalanan manusia
Dalam Al-Qur’an telah disebutkan bahwa Al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadhan. Telah di jelaskan apda surah Al Baqarah :185 “Bulan ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk manusia’’. Dan pada surah Al- Qadar :1 “Sesungguhnya Allah telah menurunkan Al-Qur’an pada malam kemuliaan”. Beberapa ayat lain juga menerangkan bahwa al-quran diturunkan berangsur-angsur dalam kurun waktu dua puluh tiga tahun dan selesai selama masa kenabian. Banyak sekali ayat Al Qur’an yang menegaskan bahwa Al Qur’an turun secara berangsur-angsur.
Selain ayat diatas juga dijelaskan pada surat Al Insan : 23. “Sesungguhnya kami telah menurunkan Al Quran kepada mu dengan berangsur-angsur”. Ibnu abbas juga meriwayatkan bahwa “dia berkata bulan yang didalmnya al-quran diturunkan oleh kibril sekaligus kelangit dunia. Kemudian setelah itu diturunkan kepada muhammad saw dari hari ke hari, satu ayat, dua ayat, tiga ayatatau satu surah.


C.     Hikmah turunnya Al-Qur’an secara Berangsur-angsur
           
Selalu ada hikmah dibalik suatu peristiwa. Sama halnya dengan diturunkannya Al-Qur’an secara erangsur-angsur antara lain sebagai berikut :
1.      Menguatkan dan meneguhkan hati Raulullah SAW, dalam rangka menyampaikan dakwahnya dalam menghadapi celaan orang-orang musyrik (QS. Al-Furqon ayat 32)
2.      Memudahkan Nabi SAW dalam menghafal lafad Al-Qur’an, mengingat Al-Qur’an bukan sya’ir atau prosa, tetapi kalam Allah yang sangat berbobot isi maknanya sehingga memerlukan hafalan dan kajian secara khusus.
3.      Sebagai pendidikan terhadap umat Islam, dengan turunnya Al-Qur’an dengan secara bertahap, pelajaran dengan sabar dan hati-hati dalam menghadapi segala cobaan, dan bertahap dalam memahami hukum Islam.
4.      Dengan cara ini, turunnya ayat sesuai dengan peristiwa yang terjadi akan lebih berkesan dihati, karena segala persoalan dapat ditanyakan langsung kepada Rasul SAW, seperti yang terjadi, dan Al-Qur’an langsung menjawabnya, dalam persoalan istri su’ad bin Rabi’ yang datang kepada Rasulullah
5.      Agar mudah dimengerti dan dilaksanakan segala isinya oleh umat Islam.
6.      Memberi kesempatan sebaik-baiknya kepada umat Islam untuk meninggalkan sikap mental atau tradisi-tradisi jahiliyah yang negative secara berangsur-angsur.
7.      Membuktikan bahwa Al-Qur’an benar-benar kalam Allah.

D.     Makna Wahyu dan Macam Wahyu
           Arti wahyu dari segi bahasa adalah petunjuk yang di sampaikan secara sembunyi, atau dengan kata lain wahyu tersebut menggunakan metode sembunyi-sembunyi dalam penyampaiannya. Pengertian wahyu Menurut syara' wahyu adalah pemberitahuan Allah SWT kepada orang yang dipilih dari beberapa hamba-Nya mengenai beberapa petunjuk dan ilmu pengetahuan yang hendak diberitahukannya tetapi dengan cara yang tidak biasa bagi manusia, baik dengan perantaraan atau tidak dengan perantaraan.
           Lafazh "wahyu'' ini menunjukkan bahwa penyampaian berita dari Allah Swt kepada Rasulullah SAW menggunakan metode khusus.Hal itu dapat dibuktikan dengan digunakannya metode sembunyi-sembunyi, keakuratan, dan tidak memungkinkannya orang lain untuk dapat mengetahui.

Macam wahyu :
Ø  Sebagaimana yang disabdakan Rasulullah SAW “sesungguhnya Ruhul Qudus membisikan ke dalam pikiranku”
Ø  Berbicara kepada Nabi dari balik tabir, seperti dalam QS. AN-NISA 164
Ø  Seorang malaikat menyampaikan wahyu yang dikirimkan dari sisi Allah SWT kepada salah seorang Nabi-Nya
BAB III

PENUTUP


A.     Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan bukti sejarah turunnya Al-Qur’an dapat ditarik kesimpulan, bahwa Allah menurunka Al-Qur’an secara tidak langsung dengan keseluruhannya melainkan dengan cara yang berangsur-angsur. Hal ini untuk memudahkan kepada Nabi muhammad SAW untuk menghafalnya dan mendiktenya kepada para penulis wahyu.
Sedangkan Al-Qur’an itu sendiri mempunyai arti bacaan, dimulai dengan surat Fatihah dan diakhiri dengan surat An-Nas, dan merupakan ibadah bagi yang membacanya dan kafir bagi yang mengingkarinya. Al-Qur’an juga  sangat berfungsi bagi kehidupan manusia adalah sebagai petunjuk bagi manusia, sumber pokok ajaran Islam, pemberi peringatan dan pelajaran bagi manusia.
Sebagai umat Islam, hendaklah selalu mengamalkannya ayat-ayat Qur’an setiap saat baik itu kepada orang lain maupun pada diri sendiri. Selalu membaca, mengahafal, memahami dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari karena Al-qur’an itu banyak sekali manfaat dan fungsinya bagi kehidupan manusia. Banyak pengetahuan di dalamnya, karena ilmu pengetahuan semuanya juga bersumber dari Al-Qur’an. Orang yang mengikuti ajaran Al-Qur’an akan masuk surga sedangkan yang menentangnya akan masuk neraka.
                                                      
B.     Saran

Demikianlah makalh kami buat. Kami sadar makalah ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun dari pembaca sangat kami harapkan. Guna kesempurnaan makalah kami selanjutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.
















DAFTAR PUSTAKA

http://www.zulfanafdhilla.com/2014/10/pengertian-nuzulul-quran.html
Shihab, Quraish.1996.Membumikan Al Quran”Fungsi dan Peranan Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat”. Bandung:Mizan

Al-Athar, Dawud.1979. ‘’ Ilmu Qur’an’’ . Bairud 1979. Pustaka Hidayah
http://gibukmakalah.blogspot.com/2014/02/pengertian-wahyu-macam-macam-dan-proses.html









MAKALAH ASBABUN NUZUL AL QUR'AN

ASBABUN NUZUL
Disusun guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah    : Ulum Al – Qur’an
Dosen Pengampu : Lathifah Munawaroh, Hj. Lc.,MA.












Disusun Oleh :

Inggried Tria Monica              1502056001
Oktavia Wulandari                  1502056020
Dwi Muliani                            1502056025
Humairo Khaerun Nida          1502056036

Kelas : PIH-A1

KEMENTERIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
FAKULTAS SYARIAH
Jalan Prof. DR. Hamka Ngaliyan, Semarang 50185, Telp. (024)7604554
2015
BAB 1
PENDAHULUAN

Turunnya ayat – ayat Al-Qur’an bukan berarti tanpa latar belakang historis meskipun tidak semua ayat , akan tetapi sebagian ayat turun karena latar belakang tertentu . Seperti yang kita fahami merupakan suatu keniscayaan sesuatu yang terjadi atau tercipta mesti ada penyebabnya . Itu merupakan sunatullah di alam ini begitu pula ayat ayat Al Qur’an yang Allah turunkan juga ada sebab – sebab turunya . Dapat kita bayangkan betapa sulitnya para ulama dalam memahami dan menafsirkan ayat – ayat Al-Qur’an tanpa mengetahui Asbabun Nuzulnya .Asbabun Nuzul merupakan pembantu ilmu tafsir dalam menetapkan tafsir yang lebih tepat dan lebih benar bagi ayat – ayat Al-Qur’an . Oleh karena itu mempelajari , memahami , dan mengkaji asbabul nuzul menjadi penting. Pendapat ahli tafsir tidaklah dapat menguraikan segala kesimpulan dan tidaklah pula dapat menerangkan muthasyabihat sebagaimana tidak dapat menjelaskan yang mujmal. Juga sangatlah relevan apa yang dikatakan oleh al-wahidy yang dikutip al-shuyuty. Tidak mungkin menafsirkan ayat ( Al-quran ) tanpa mengetahui kisah dan penjelasan sebab turunnya. Epistimologi tersebut melatarbelakangi ulama klasik ( terutama mufasir bil ma’tsur ) meletakkan ilmu asbabun nuzul sebagai ilmu penting diantara ilmu-ilmu Al-quran. Dalam perkembangan tafsir, perhatian terhadap ilmu Asbabun Nuzul mengalami dinamisasi.Meskipun dikalangan umat Islam banyak yang masih mempertahankan epitimology klasik, tetapi ada yang mencoba merekontruksi bahkan mengkritisi ilmu.Asbabun Nuzul tersebut terutama dari pemikir kontemporer.





                       
BAB II
RUMUSAN MASALAH
Dalam makalah ini Kami akan membahas tentang poin-poin yang Kami rangkum dalam rumusan masalah ini dan berbentuk pernyataan serta penjelasan yang antaralain adalah sebagai berikut :
a.       Pengertian Asbabun Nuzul
b.      Cara Mengetahui Asbabun Nuzul
c.       Macam-macam Asbabun Nuzul
d.      Faedah Asbabun Nuzul















BAB III
PEMBAHASAN

A.     Pengertian Asbabun Nuzul

Asbabun Nuzulsecara bahasa berarti sebab turunnya ayat – ayat  Al-Qur’an. Al-Qur’an diturunkan Allah SWT kepada Muhammad SAW secara berangsur – angsur dalam masa lebih kurang 23 tahun .Al-Qur’an diturunkan untuk memperbaiki akidah, ibadah, akhlak, dan pergaulan manusia yang sudah menyimpang dari kebenaran. Dipandang dari segi peristiwa nuzulnya, ayat Al-Qur’an ada dua macam. Pertama, ayat yang diturunkan tanpa ada keterkaitannya dengan sebab tertentu, semata-mata sebagai hidayah bagi manusia. Kedua,  ayat-ayat  Al-Qur’an yang diturunkan lantaran adanya sebab atau kasus tertentu. Misalnya pertanyaan  yang  diajukan oleh umat islam atau bukan muslim kepada Rasulullah SAW atau adanya kasus tertentu yang memerlukan jawaban sebagai sikap Syariat Islam terhadap kasus tersebut. Ayat-ayat macam inilah  yang dibahas dalam kaitannya dengan pembicaraan Asbabun Nuzul.Shubhi al-Shalih memberikan definisi Asbabun Nuzul sebagai berikut:

مانزلت الايةاوالايات بسببه متضمنة له اومجيبةعنه اومبينة لحكمه زمن وقوعه

“Sesuatu  yang  dengan sebabnya turun suatu ayat atau beberapa ayat  yang mengandung sebab itu, atau member jawaban terhadap sebab itu, atau menerangkanhukumnya pada masa terjadinya sebab tersebut”[1]

Para pakari lmu-ilmu Al-Qur’an, misalnyaSyekhAbd Al-‘Azhim Al-Zarqaniy dalam Manahil Al-Irfan-nya mendefinisikan Asbabun Nuzul sebagai kasus atau sesuatu yang terjadi yang ada hubungannya dengan turunnya ayat, atau ayat-ayat Al-Qur’an sebagai penjelasan hukum pada saat terjadinya kasus. Kasus yang dimaksud dalam definisi diatas, tentu saja terjadi pada zaman Rasulullah SAW. Demikian juga pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Setelah terjadi kasus tertentu atau pertanyaan tertentu yang diajukan kepada Rasulullah SAW kemudian turun satu ayat atau beberapa ayat Al-Qur’an yang menjelaskan hukum kasus yang terjadi atau menjawab pertanyaan yang diajukan kepada Rasulullah SAW. Hakikatnya, Rasulullah hanyalah pembawa risalah. Beliau tidak memegang otoritas untuk menetapkan suatu hukum syariat. Hukum itu sendiri dating dari Allah SWT melalui wahyu yang dibawa oleh malaikat Jibril. Al-Qur’an turun kepada Nabi disetiap waktu dalam rentang waktu lebihkurang 23 tahun. Ayat – ayat Al-Qur’an tidak selamanya turun ketika Nabi berada dalam masjid dan waktu siang hari. Al-Qur’an bisa turun ketika Nabi berada di Madinah, di Makkah, Arafah dalam perjalanan di waktu siang dan malam hari. Tentunya para sahabat tidak mungkin mengikuti Nabi setiap waktu karena juga mempunyai kesibukan lain, baik dalam penyiaran da’wah dan jihad maupun dalam memenuhi kepentingan mereka dan keluarganya sendiri. Memang dimaklumi bahwa para sahabat mempunyai semangat   yang tinggi untuk mengikuti perjalanan turunnya wahyu. Intensitas keimanan yang tinggi dan kecintaan mereka kepada Nabi telah mendorong mereka untuk memberikan perhatian maksimal kepada apa yang dibawa Nabi sehingga mereka bukan saja berupaya menghafal ayat ayat Al-Qur’an dan hal-hal yang berhubungan dengannya, tetapi juga mereka melestarikan Sunnah Nabi. Karena itu, segala apa yang diketahui tentang sebab-sebab turunnya Al-Qur’an diperoleh melalui mereka. Berdasarkan keimanan, ketakwaan, dan kewaraan mereka, keterangan mereka sebagai sahabat tentang Asbabun Nuzul diterima. Para ulama salaf sangat berhati-hati dalam menerima dan meriwayatkan AsbabunNuzul. Muhammad IbnSirin( w. 110 H. ) pernah berkata:

سا لت عبيدةعن اية من اية من القرا ن فقا ل اتق ا لله و قل سداداذهب الذ ين يعلمون فيماانزل الله من القران

“Aku bertanya kepada ‘Ubaidah tentang suatu ayat Al-Qur’an. Ia menjawab: “Bertakwalah kepada Allah dan katakanlah yang benar. Telah pergi orang – orang yang mengetahui tentang hal kepada siapa ayat itu diturunkan. Akan tetapi, kewaraan dan kehati-hatian semacam ini tidak menghalangi mereka untuk menerima riwayat sahabat dalam masalah Asbabun Nuzul.[2]

B.      Cara Mengetahui Asbabun Nuzul

Asbabun Nuzul adalah peristiwa yang terjadi pada zaman Rasulullah SAW. Oleh karena itu, tidak ada jalan lain untuk mengetahuinya selain mengambil sumber dari orang yang menyaksikan peristiwa tersebut dalam hal ini riwayat para sahabat Rasulullah SAW yang mendengar dan menyaksikan kejadian yang berhubungan dengan turunnya ayat tertentu. Dengan demikian, dalam membahasa Asbabun Nuzul, pendapat ataupun penafsiran tidak mempunyai peran yang berarti syekh imam abi hasan ali bin ahmad al-wahidy al-nisaburiy dalam kitab asbab al-nuzul-nya mengatakan, “di dalam pembicaraan asbab nuzul Al-qur’an, tidak dibenarkan kecuali dengan riwayat dan mendengar dari mereka yang secara langsung menyaksikan peristiwa nuzul, dan bersungguh-sungguh di dalam mencari(nya).”
Rasulullah SAW bersabda:

اتقواعني الاماعلمتم فانه من كذ ب علي متعمدافليتبوامقعده من النار
“ Berhati – hatilah (dalam soal ) riwayat dari sumberku, kecuali apa yang telah kalian ketahui. Karena sesungguhnya, barang siapa yang sengaja berdusta atasku, maka bersiap-siaplah untuk menempati tempat duduk dari api ( dikeluarkan oleh Ahmad dan Al-tirmidi )[3]







C.      Macam-macam asbabun nuzul

Asbabun nuzul bisa ditinjau dari berbagai aspek.Ditinjau dari aspek bentuknya, asbabun nuzul dapat dibagi mejadi dua bentuk.Pertama berbentuk peristiwa dan yang kedua berbentuk pertanyaan.Asbabun nuzul yang berbentuk peristiwa ada tiga macam, pertengkaran, kesalahan yang serius, dan cita-cita dan harapan. Contoh Asbabun Nuzul yang berbentuk peristiwa sebagai berikut :
1.      Peristiwa berupa pertengkaran, seperti perselisihan yang berkecamuk antara segolongan dari suku Aus dan segolongan dari suku Khazraj.
2.      Peristiwa berupa kesalahan yang serius, seperti peristiwa seorang yang mengimani sholat sedang mabuk sehingga tersalah membaca surah Al-Kafirun, sehingga turunlah Al-Qur’an surat An-Nisa’ ayat 42.
3.      Peristiwa itu berupa cita-cita dan keinginan, seperti persesuaian-persesuaian (muwafaqat) Umar Ibn Al-Khathatab dengan ketentuan ayat-ayat Al-Qur’an. Dalam sejarah ada beberapa harapan Umar yang dikemukakannya kepada Nabi Muhammad SAW, kemudian turunlah ayat yang sesuai dengan harapan-harapan Umar tersebut. Sebagai contoh adalah keinginan Umar Ibn Khaththab untuk menjadikan makam Ibrahim sebagai tempat sholat, maka turunlah ayat yang memerintahkan untuk melaksanakan sholat di Makam Ibrahim.
Asbabun nuzul yang berbentuk pertanyaan dibagi menjadi tiga macam, yaitu pertanyaan tentang masalalu, masa yang sedang berlangsung, dan masa yang akan datang.
            Berikut ini adalalah contoh Asbabun Nuzul yang berbentuk pertanyaan :
1.      Pertanyaan tentang masa lalu , seperti ayat :
وَيَسۡـَٔلُونَكَ عَن ذِى ٱلۡقَرۡنَيۡنِ‌ۖ قُلۡ سَأَتۡلُواْ عَلَيۡكُم مِّنۡهُ ذِڪۡرًا

“Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulkarnain. Katakanlah: "Aku akan bacakan kepadamu cerita tantangnya". (QS. Al-Kahfi: 83)
2.      Pertanyaan yang berhubungan dengan sesuatu yang sedang berlangsung pada waktu itu seperti ayat:
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖقُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit". (QS. Al-Isra’ : 85)


3.      Pertanyaan tentang masa yang akan datang

يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا
“(orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari kebangkitan, kapankah terjadinya?”. (QS. An-Nazi’at : 42)
Dari segi jumlah sebab dan ayat turun, dibagi menjadi ta’addud al-asbab wa al-nazil wahid (sebab turunnya lebih dari satu dan inti persoalan yang terkandung dalam ayat atau sekelompok ayat satu ) dan ta’addud al-nazil wa al-sabab  wahid (inti persoalan yang terkandung dalam ayat atau sekelompok ayat yang turun lebih dari satu sedang sebab turunnya satu ). [4] sebab turun ayat disebut ta’addud karena wahid atau tunggal bila riwayatnya hanya satu, sebaliknya apabila satu ayat atau sekelompok ayat yang turun disebut ta’addud al-nazil.
Jika ditemukan dua riwayat atau lebih tentang sebab turun ayat-ayat dan masing-masing menyebutkan suatu sebab yang jelas dan berbeda dari yang disebutkan lawannya, maka riwayat ini harus diteliti dan dianalisis, permasalahannya ada empat bentuk :
Pertama, salah satu dari keduanya shahih dan lainnya tidak.
Kedua, keduanya shahih akan tetapi salah satunya mempunyai penguat (Murrajih) dan lainnnya tidak.
Ketiga, keduanya shahih dan keduanya sama-sama tidak mempunyai penguat (Murajjih). Akan tetapi, keduanya dapat diambil sekaligus.
Keempat, keduanya shahih, tidak mempunyai penguat dan tidak mungkin mengambil keduanya sekaligus.

4.      Faedah mengetahui asbaun nuzul

Beberapa pakar Ulum Qur’an misalnya Al-Zarqaniy dan Al-Suyuthiy, mensinyalir adanya kalangan yang beranggapan bahwa mengetahui Asbabun Nuzul tidak ada gunanya.Hal itu dianggapnya tidak lebih dari pada sejarah turunnya ayat yang tidak ada kaitannya dengan pemahaman Al-Qur’an.Anggapan semacam ini, oleh kebanyakan ulama termasuk diantaranya Ibnu Taimiyah yang mendalami ilmu-ilmu Al-Qur’an, dinilai sebagai pandangan yan keliru karena banyak sekali hal yang dapat dibantu oleh pemahaman Asbabun Nuzul didalam upaya memahami Al-Qur’an.Faedah-faedah itu diantaranya adalah sebagai berikut.
1.      Membantu dalam memahami sekaligus mengatasi ketidakpastian didalam menangkap ayat-ayat Al-Qur’an. Untuk itu simaklah firman Allah berikut ini:

ولله المشرق والمغرب فا ينماتولوافثم وجه الله

Artinya:
“ dan kepunyaan Allah SWT. Iyalah timur dan barat.Maka kemanapun kamu menghadapnya, disitulah wajah Allah SWT. (QS Al-Baqarah [2]:115 )
Menurut zahir ayat ini, orang yang shalat, boleh menghadap kearah mana saja, sesuai kehendak hatinya. Ia seakan- akan tidak berkewajiban menghadap Ka’bah saat shalat, dan zahir ayat itu membolehkan orang menghadap arah mana saja, baik ketika bermukmim maupun dalam perjalanan. Akan tetapi, setelah memahami Asbabun Nuzul ayat diatas, ternyata tidak demikian. Orang yang didalam shalatnya dibenarkan menghadap arah mana saja hanyalah orang yang tidak tau arah kiblat kemudian dia berijtihad.

2.      Mengatasi keraguan terhadap ayat yang diduga mengandung pengertian umum. Misalnya firman Allah SWT yang berbunyi :

قلل لااجد في مااوحي الي محرماعلى طا عم يطعمه الا ان يكون ميتةاودمامسفوحااولحم  خنزيرفانه رجس اوفسقااهل لغيرالله به

Artinya:
“katakanlah: “tidak kudapati didalam apa yang diwahyukan kepadaku sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakainya, kecuali kalo makanan itu ( berupa ) bangkai, atau darah yang mengalir, atau daging babi, karena semua itu kotor, atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah” (QS Al-An’am [6]: 145 )
Menurut imam Al-Syafi’I, pengertian yang dimaksud ayat ini tidaklah umum (hashr). Untuk mengatasi kemungkinan adanya keraguan dalam memahami ayat diatas, Imam Syafi’i menggunakan “alat bantu” Nuzul ayat. Ayat ini, seperti diturunkan Al-Zarqaniy, menurut Syafi’i diturunkan sehubungan dengan orang-orang kafir yang tidak mau memakan sesuatu kecuali yang telah mereka halalkan. Telah menjadi kebiasaan orang-orang kafir, terutama Yahudi, mengharamkan apa saja yang dihalalkan Allah SWT. Selanjutnya turunlah ayat 145 surah Al-An’am diatas untuk menetapkan pengharaman dan bukan untuk menetapkan penghalalan makanan yang tidak disebut ayat tersebut.













BAB IV
PENUTUP
A.    Kesimpulan

Simpulan Penjelasan diatas merupakan kajian kritis yang bersifat meninjau ulang posisi dan fungsi asbabun nuzul dalam pemahaman Al-Quran.Mengingat bahwa asbabun nuzul adalah salah satu ilmu-ilmu Al-Qur’an yang terpenting.Oleh karena itu, para ulama menuangkan masalah asbabun nuzul dalam berbagai karya ilmiah yang kini menjadi rujukan para ahli. Jika berbagai karya ilmiah yang kini menjadi rujukan para ahli. Jika berbagai data kuantitatif dan analisis di atas dihubungkan dengan persoalan signifikansi pemahaman Al-Qur’an, maka memang tidak semua ayat Alquran membutuhkan penjelasan dengan memakai asbabun nuzul. Sehingga dengan demikian maka Al-Qur’an akan lebih mudah dipahami dan dipelajari, sesuai dengan apa yang dijanjikan Allah dalam Al-Qur’an. Namun ini sama sekali tidak berarti mengurangi arti penting asbabun nuzul, apalagi dianggap tidak perlu lagi.

B.     Saran
Uraian yang terdapat dalam makalah ini masih jauh dari sempurna, maka dari itu mari kita mengkaji secara bersama-sama asbabun nuzul yang sebenarnya. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun dari pembaca sangat kami harapkan. Guna kesempurnaan makalah kami selanjutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.






DAFTAR PUSTAKA
Hermawan,Acep,Ilmu Untuk Memahami Wahyu, (Bandung : RemajaRosdakarya, 2011)
Abdul Wahid, Ramli, Ulumul Qur’an edisi revisi, (Jakarta: Raja Grafindo,2002)
Hasbi, Muhammad, Ilmu-ilmu Al-Qur’an, ( Semarang :Pustaka Rizqi Putra,2002)



[1] Al-Shalih, Shubhi, op. cit, hlm. 132.
[2] Ulumul Qur’an, Edisi Revisi, Drs. H. Ramli Abdul Wahid, MA., Jakarta Th 2002, hlm. 47
[3] Ulumul Qur’an, Ilmu Untuk Memahami Wahyu, Acep Hermawan, M.Ag, Bandung Th 2011, hlm 41
[4] Ulumul Qur’an, Edisi Revisi, Drs. H. Ramli Abdul Wahid, MA. Jakarta Th 2002, hlm 49

Siapa Orang Paling Berpengaruh No 1 Didunia ?

Translate